Kamis, 14 April 2011

PERAN ARSITEK

# TUGAS KONSERVASI ARSITEKTUR

Buatlah sebuah tulisan mengenai peran arsitek dalam pelestarian dan pemugaran sebuah bangunan yang memiliki nilai historis?

semua uraian harus memiliki landasan/sumber yang jelas!

PERAN ARSITEK DALAM PELESTARIAN DAN PEMUGARAN

Internal :

- Meningkatkan kesadaran di kalangan arsitek untuk mencintai dan mau memelihara warisan budaya berupa kawasan dan bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi

- Meningkatkan kemampuan serta penguasaan teknis terhadap jenis-jenis tindakan pemugaran kawasan atau bangunan, terutama teknik adaptive reuse

- Melakukan penelitian serta dokumentasi atas kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan

Eksternal :

- Memberi masukan kepada Pemda mengenai kawasan-kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan dari segi arsitektur.

- Membantu Pemda dalam menyusun Rencana Tata Ruang untuk keperluan pengembangan kawasan yang dilindungi (Urban Design Guidelines)

- Membantu Pemda dalam menentukan fungsi atau penggunaan baru bangunan-bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi yang fungsinya sudah tidak sesuai lagi (misalnya bekas pabrik atau gudang) serta mengusulkan bentuk konservasi arsitekturalnya.

- Memberikan contoh-contoh keberhasilan proyek pemugaran yang dapat menumbuhkan keyakinan pengembang bahwa dengan mempertahankan identitas kawasan/bangunan bersejarah, pengembangan akan lebih memberikan daya tarik yang pada gilirannya akan lebih mendatangkan keuntungan finansial.

Peran Arsitek dalam pelestarian dan pemugaran adalah bagaimana memberikan kontribusi, sesuai bidang, agar lingkungan sekitar tetap terjaga dan dipertahankan sesuai fungsi dan kebutuhan ssat ini dan masa yang akan datang.

Contoh:

KONSERVASI BANGUNAN BANK INDONESIA

Arsitek : Han Awal





Dalam proses konservasi pada Bangunan Bank Indonesia, peran seorang arsitek dapat terlihat dalam beberapa hal yang dianggap kecil namun bernilai besar, antara lain :

● Sebuah talang air. talang air dari tembaga, yang menempel di salah-satu sudut bangunan. Tembaga disepu kembali, yang dulunya dicat berulang-ulang, dalam konservasi ini, dikembalikan dalam bentuk aslinya. Proses pengerikan kembali seperti aslinya, yang rata-rata menggunakan tangan.

● Ubin. Ornamen palsu yang menyerupai asli. sebuah ubin yang mirip dengan di tahun 1935, baik warna, bahan, atau bentuk, namun karena dibuat baru, maka diberi tanda, untuk membedakan dengan ubin yang asli. ubin "palsu" itu diberi tanda titik, berupa lubang berdiameter kurang dari setengah sentimeter. Bila tidak dilihat secara teliti, tentu orang tidak akan bisa membedakan antara ubin asli dan bukan.

Kata Han Awal, barang pengganti yang tidak asli itu harus diungkapkan kepada pengunjung musium, seperti yang menjadi kaidah konservasi.

Untuk mendapatkan bahan ubin seperti yang asli, tentu saja tidaklah gampang. Han beserta stafnya harus keliling sampai ujung timur Pulau Jawa. Untuk mendapatkan bahan logam untuk pegangan pintu, misalnya, mereka harus mendatangkan ahli logam dari pelosok desa. Membuat penggantinya dengan bahan-bahan lokal, lalu mengkopinya sehingga betul-betul hampir tidak kelihatan bedanya.


Sumber:

http://heyderaffan.multiply.com/journal/item/31/Han_Awal_arsitek_yang_peduli_bangunan_cagar_budaya..._



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar